Paskibra MAN 6 Jombang, Ketika Pendidikan Karakter Tumbuh di Balik Sang Merah Putih

 

Paskibra MAN 6 Jombang, Ketika Pendidikan Karakter Tumbuh di Balik Sang Merah Putih

Bacaan Lainnya

 

SUARATEMPO.COM-JOMBANG||Bukan sekadar berdiri tegap di bawah terik matahari. Bagi siswa MAN 6 Jombang, menjadi bagian dari Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI menjadi pengalaman pendidikan yang sarat makna.

Sejumlah siswa MAN 6 Jombang mendapat kepercayaan untuk menjadi bagian dari Paskibra, baik di tingkat Kabupaten Jombang maupun Kecamatan Mojoagung. Mereka menjalankan tugas dengan penuh disiplin dan tanggung jawab dalam rangkaian upacara peringatan kemerdekaan.

Di tingkat Kabupaten Jombang, dua siswa MAN 6 Jombang, Juwita Nareswarie dan Muhammad Faiz Zein, dipercaya menjadi bagian dari pengibar bendera HUT ke-81 RI.

Sementara di tingkat Kecamatan Mojoagung, sejumlah siswa lainnya juga mendapat kepercayaan menjadi anggota Paskibra. Mereka tampil membawa nama madrasah sekaligus menunjukkan hasil dari proses pembinaan yang dilakukan secara konsisten.

Bagi MAN 6 Jombang, keterlibatan siswa dalam Paskibra tidak hanya dipandang sebagai sebuah prestasi. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi ruang belajar di luar kelas untuk membangun karakter dan mental generasi muda.

Kepala MAN 6 Jombang, Misbakhul Arif, M.Pd.I, mengatakan pengalaman menjadi Paskibra mengajarkan banyak hal yang tidak selalu diperoleh melalui pembelajaran di ruang kelas.

«“Alhamdulillah, kami sangat bangga dan bersyukur atas kepercayaan yang diberikan kepada anak-anak. Menjadi Paskibra bukan hanya tentang kemampuan baris-berbaris, tetapi bagaimana mereka belajar disiplin, bertanggung jawab, bekerja sama, dan menghargai perjuangan para pahlawan,” ujar Misbakhul.»

Menurutnya, proses latihan yang panjang justru menjadi bagian penting dari pendidikan karakter. Para siswa dituntut mampu menjaga kedisiplinan, mengikuti arahan, mengendalikan emosi, serta mengutamakan kepentingan bersama.

“Di dalam Paskibra ada proses pendidikan yang sangat kuat. Anak-anak belajar bahwa sebuah hasil tidak datang secara instan. Ada latihan, ada rasa lelah, ada kekompakan, dan ada tanggung jawab yang harus diselesaikan sampai tuntas,” katanya.

Misbakhul berharap pengalaman tersebut tidak berhenti ketika tugas pengibaran bendera selesai. Nilai kedisiplinan dan tanggung jawab yang diperoleh selama menjadi Paskibra diharapkan terus dibawa siswa dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami ingin pengalaman ini menjadi bekal mereka untuk masa depan. Setelah kembali ke bangku madrasah, mereka tetap menjadi pribadi yang disiplin, percaya diri, punya jiwa kepemimpinan dan mampu menjadi teladan bagi teman-temannya,” tuturnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para pembina dan pelatih yang telah mendampingi siswa selama proses persiapan, serta kepada orang tua yang memberikan dukungan.

Bagi para siswa, kesempatan berdiri dalam barisan Paskibra mungkin hanya berlangsung beberapa menit saat upacara. Namun bagi pendidikan mereka, pengalaman tersebut bisa menjadi pelajaran panjang tentang arti sebuah amanah.

Di bawah kibaran Merah Putih, mereka tidak hanya belajar menghormati simbol negara. Mereka juga sedang belajar tentang arti disiplin, pengorbanan, kebersamaan dan keberanian untuk mengambil tanggung jawab.

Dari halaman madrasah hingga barisan Paskibra, pendidikan karakter itu tumbuh—setapak demi setapak, melalui pengalaman yang kelak menjadi bagian dari perjalanan mereka menuju masa depan.

Penulis: Minal

Editor: Soleh

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *